Viewers

"The mind is like an iceberg, it floats with one-seventh of its bulk above water." ~ Sigmund Freud
Tampilkan postingan dengan label Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Mei 2016

Mengkaji Maraknya Fenomena Cyberbullying

Tahukah kalian Sonya Depari? Remaja asal Medan ini mendadak populer karena videonya menjadi viral di dunia maya karena ia mengaku sebagai anak Deputi BNN Irjen Pol Arman Depari. Pengakuan itu dilontarkan saat ia marah-marah kepada seorang polwan yang menghentikan konvoi seusai Ujian Nasional.
Namun hal itu dibantah oleh Irjen Pol Arman Depari. Beliau mengatakan bahwa ia tidak memiliki seorang putri namun tiga orang putra yang berada di Jakarta. Sontak hal ini menjadi perhatian publik terutama Netizen. Mereka langsung menyerbu akun Instragram dara cantik itu dan mengomentari foto – foto di akunnya. Sayangnya, komentar – komentar yang dilontarkan netizen padanya banyak berisi makian.
Pemberitaan bertubi – tubi serta caci maki yang ia terima di media sosial membuat Sonya trauma. Bahkan ayah Sonya jatuh sakit akibat pemberitaan tersebut. Hingga pada Kamis pagi (7/4/2016), Ayah Sonya dikabarkan meninggal dunia karena stroke.
Tak sedikit orang yang akhirnya berempati atas kejadian ini namun masih banyak pula orang yang mencaci Sonya seakan – akan apa yang terjadi pada Sonya saat itu ialah karma yang ia terima. Hal ini menjadi pro kontra di media sosial. Banyak pihak yang merasa prihatin dengan apa yang terjadi seolah – olah banyak netizen yang kehilangan rasa kemanusiaanya pada Sonya.
Sonya merupakan satu dari banyak korban yang mengalami Cyberbullying. Cyberbullying ialah sebuah perilaku mengintimidasi, mengejek, menghina, bahkan hacking terhadap seseorang di dunia maya. Fenomena ini banyak bermunculan seiring berkembangnya teknologi informasi dan dapat berujung pada tindakan bunuh diri korban.  Cyberbullying sangat mudah dilakukan karena pelaku tidak perlu berhadapan langsung dengan korban. Sayangnya saat ini belum ada data statistik yang konkret mengenai cyberbullying di Indonesia karena korban jarang melaporkan pada pihak berwajib.
Lalu kenapa cyberbullying ini bisa terjadi ? Siapa pelakunya?

Pengguna Internet di Indonesia meningkat drastis setiap tahunnya. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) saat ini ada 88.1 juta pengguna Internet di Indonesia menandakan bahwa sekitar 34.9% warga negara Indonesia sudah dapat mengakses Internet. Sebanyak 49% pengguna Internet di indonesia berkisar antara usia 18 hingga 25 tahun dan sebanyak 87.4% menggunakan Internet untuk mengakses media sosial. Mayoritas pengguna mengakses Internet di rumah.
Dari data diatas bisa disimpulkan bahwa mayoritas pengguna media sosial merupakan remaja hingga dewasa awal. Pada masa tersebut, peran teman sebaya merupakan aspek yang penting didalam kehidupan remaja. Hubungan remaja dengan teman sebayanya menjadi sebuah indikator bagaimana kompetensi sosialnya. Seseorang yang memiliki kompetensi sosial yang tinggi cenderung untuk menghindari perilaku yang tidak diterima secara sosial. Karena itulah mereka jarang melakukan tindakan – tindakan yang merugikan orang lain (Mertens, 2010). Sedangkan pelaku bullying diyakini memiliki kompetensi sosial yang rendah karena perilaku mereka (Crick & Dodge, 1994: Sutton, dkk, 1999 dalam Mertens, 2010). Namun masih ada korelasi antara cyberbullying dengan orang yang memiliki kompetensi sosial yang cukup. Ini menandakan bahwa masih ada faktor lain yang menyebabkan seseorang melakukan cyberbullying.  
Faktor – faktor yang dapat menjadi pertimbangan pelaku melakukan cyberbullying adalah motivasi, kepribadian, dan pergaulan sosial. Menurut faktor motivasi, ada lima tipe pelaku cyberbullying berdasarkan motivasinya yaitu; Malaikat Pembalas Dendam (The Vengeful Angel), Si Haus Kekuasaan dan Pembalasan Si Aneh (The Power Hungry and Revenge of The Nerds), Gadis Jahat (Mean Girls), serta Si Tidak Sengaja (The Inadvertent) (Aftab 2008, dalam Fegenbush & Olivier, 2009).
Menurut faktor kepribadian, pelaku bullying memiliki memiliki kepribadian yang suka menguasai dan mengendalikan pihak lain, mudah curiga, suka bermusuhan dan kurang memiliki kepedulian terhadap pihak lain. Selain itu, pelaku bullying cenderung sulit untuk mengekspresikan dan merasakan kehangatan, mudah mengalami gejolak emosi serta sulit untuk bersikap sesuai dengan aturan (Hertinjung, dkk, 2012).
Pergaulan sosial juga menjadi faktor cyberbullying. Hubungan seseorang dengan teman sebaya dan orang tua juga dapat menjadi penyebab kenapa remaja melakukan cyberbullying.  Karena remaja cenderung ingin diperhatikan dan mendapatkan pengakuan dari teman – temannya, ia akan melakukan berbagai cara. Salah satu cara yang dapat dia lakukan untuk mendapatkan pengakuan itu adalah dengan cara agresi dan sifat antagonistik lainnya. Orang tua juga sebagai salah satu faktor yang penting dalam pencegahan cyberbullying baik pada pelaku maupun korban.

Meninjau maraknya perilaku bullying dan khususnya cyberbullying yang dilakukan oleh para remaja dan memperhatikan dampak negatif yang ditimbulkan, alangkah baiknya bila kita sebagai mahasiswa dapat menularkan semangat yang positif agar adik-adik kita dapat menggunakan waktunya dengan bijak untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat, misalnya dengan aktif mengikuti kegiatan sosial, menyalurkan minat dan hobi secara positif, beribadah, atau membaca buku ke perpustakaan dan masih banyak lagi. Mari kita tumbuhkan daya kritis semenjak remaja dengan mengondisikan diri dan adik-adik kita dengan aktifitas positif, karena kalau bukan kita siapa lagi?


Ditulis oleh Ahmad Fauzan